Kamis, 06 November 2014

ketika kematian itu datang



Sesak. Itulah yang gue rasakan malam itu. Seperti biasa karena gue keseringan tidur siang yang berlebihan jadi waktu malamnya gue sering tidur larut. Malam itu gue bermimpi. Sangat megerikan. Entah dari mana mulanya, tiba-tiba dada gue sesak dan tenggorokan gue sakit seperti ada biji salak yang nyangkut. Gue gak bisa bernafas. Tiba-tiba gue tersadar dan berfikr sambil berkata dalam hati “apakah ini yang dinamakan ajal? Apakah saat ini malaikat pencabut nyawa sedang menjalankan tugasnya?”. Gue gak tahu pasti. Gue takut. Rasa sakit dan sesak itu sangat gue rasakan dalam keadaan tidur. Saat pertanyaan-pertanyaan itu muncul, gue pengen cepet bangun. Gue belum siap mati dalam keadaan seperti ini, dalam keadaan yang sangat kekurangan amal baik. Gue pengen cepet-cepet bangun tapi gak bisa. Dengan sekuat tenaga akhirnya gue bisa bangun dan mengalahkan malaikat itu. Walaupun dalam nyatanya gue gak bisa mengalahkan malaikat pencabut nyawa itu. Dan gue tahu rasa sakit yang gue alami itu gak ada apa-apanya.
                Setelah bangun dari mimpi buruk itu (entah itu mimpi atau nyata) gue lemes banget. Badan panas. Mual. Menggigil. Ituah yang gue rasakan. Hari-hari yang gue jalankan pun tak bersemangat. Gue inget mimpi itu. “apakah itu pertanda bahwa gue gak bakal lama lagi di bumi ini?”. Entah mengapa gue pengen tidur terus siangnya. Tapi gue takut. Gue takut bahwa malaikat itu akan datang lagi dan gue gak bakal bisa bangun lagi. Gue belum siap jika tamu tak diundang itu akan datang.
                Sampai saat gue nulis jurnal ini pun gue lemes. Tapi sedikit demi sedikit gue tersadar. Bahwa di dunia ini gak ada yang abadi. Banyak kesalahan yang harus gue ubah. Banyak hal-hal baik yang belum gue perbuat di dunia ini. Banyak orang-orang di sekeliling gue yang belum gue banggakan. Banyak hati orang-orang yang gue sakiti belum gue mohon maaf. Dan masih banyak hal yang belum gue lakuin di sini.
                Tapi itulah skenario Tuhan yang manusia tidak ketahui. Skenario yang gak bisa ditebak ending (baca: akhir) nya kayak FTV. Bahwasannya kita sebagai manusia hidup hanya untukNya. Banyak hikmah yang bisa gue ambil dari kejadian itu. Hidup itu seperti perjalanan. Manusia itu sebagai perantau, dan rest area (baca: tempat peristirahatan) itu adalah bumi. Tujuan kita adalah kematian yang akan mengantar kita ke akhirat. Surga atau Neraka. Bekal kita adalah amalan kita. Jika kita mempunyai bekal yang cukup untuk mencapai tujuan maka kita akan mencapai tujuan kita (surga).
                Surga adalah tempat yang sangat diidam-idamkan oleh semua manusia di muka bumi ini. Oleh karena itu, lakukan lah perubahan sebelum tamu itu datang.