Sesak. Itulah yang gue rasakan malam itu. Seperti biasa
karena gue keseringan tidur siang yang berlebihan jadi waktu malamnya gue
sering tidur larut. Malam itu gue bermimpi. Sangat megerikan. Entah dari mana
mulanya, tiba-tiba dada gue sesak dan tenggorokan gue sakit seperti ada biji
salak yang nyangkut. Gue gak bisa bernafas. Tiba-tiba gue tersadar dan berfikr
sambil berkata dalam hati “apakah ini yang dinamakan ajal? Apakah saat ini
malaikat pencabut nyawa sedang menjalankan tugasnya?”. Gue gak tahu pasti. Gue takut.
Rasa sakit dan sesak itu sangat gue rasakan dalam keadaan tidur. Saat pertanyaan-pertanyaan
itu muncul, gue pengen cepet bangun. Gue belum siap mati dalam keadaan seperti
ini, dalam keadaan yang sangat kekurangan amal baik. Gue pengen cepet-cepet bangun
tapi gak bisa. Dengan sekuat tenaga akhirnya gue bisa bangun dan mengalahkan
malaikat itu. Walaupun dalam nyatanya gue gak bisa mengalahkan malaikat
pencabut nyawa itu. Dan gue tahu rasa sakit yang gue alami itu gak ada
apa-apanya.
Setelah
bangun dari mimpi buruk itu (entah itu mimpi atau nyata) gue lemes banget. Badan
panas. Mual. Menggigil. Ituah yang gue rasakan. Hari-hari yang gue jalankan pun
tak bersemangat. Gue inget mimpi itu. “apakah itu pertanda bahwa gue gak bakal
lama lagi di bumi ini?”. Entah mengapa gue pengen tidur terus siangnya. Tapi gue
takut. Gue takut bahwa malaikat itu akan datang lagi dan gue gak bakal bisa
bangun lagi. Gue belum siap jika tamu tak diundang itu akan datang.
Sampai saat
gue nulis jurnal ini pun gue lemes. Tapi sedikit demi sedikit gue tersadar. Bahwa
di dunia ini gak ada yang abadi. Banyak kesalahan yang harus gue ubah. Banyak hal-hal
baik yang belum gue perbuat di dunia ini. Banyak orang-orang di sekeliling gue
yang belum gue banggakan. Banyak hati orang-orang yang gue sakiti belum gue
mohon maaf. Dan masih banyak hal yang belum gue lakuin di sini.
Tapi itulah
skenario Tuhan yang manusia tidak ketahui. Skenario yang gak bisa ditebak
ending (baca: akhir) nya kayak FTV. Bahwasannya kita sebagai manusia hidup
hanya untukNya. Banyak hikmah yang bisa gue ambil dari kejadian itu. Hidup itu
seperti perjalanan. Manusia itu sebagai perantau, dan rest area (baca: tempat
peristirahatan) itu adalah bumi. Tujuan kita adalah kematian yang akan
mengantar kita ke akhirat. Surga atau Neraka. Bekal kita adalah amalan kita. Jika
kita mempunyai bekal yang cukup untuk mencapai tujuan maka kita akan mencapai
tujuan kita (surga).
Surga adalah
tempat yang sangat diidam-idamkan oleh semua manusia di muka bumi ini. Oleh karena
itu, lakukan lah perubahan sebelum tamu itu datang.