Rabu, 27 Mei 2015

Kebencian dan Penyesalan

gue yakin pasti setiap  orang pernah mempunyai masalah dengan keluarganya. begitu juga gue. ketika hati gue ditutup oleh emosi dan kebencian, gue benar-benar benci dengan keluarga. pikiran gue berkata "jangan salahkan gue" gue seperti ini karena dibentuk oleh keluarga. GUE YAKIN. tapi saat hati nurani gue bilang "kenapa gue begini?" kebencian dan penyesalan selalu bersaing untuk menang. dari sisi yang berbeda, gue benci banget denga sikap gue yang seperti ini. gue benci sikap gue ketika gue membenci keluarga.
gue tau, keluarga lah yang paling penting. karena apalah gue tanpa keluarga. salah ketika gue membenci keluarga. tapi ada saatnya bukan keluarga yang gue butuhkan, bukan keluarga yang membuat gue senang, bukan keluaga juga yang bisa menjadi obat hati gue yang hancur.
gue butuh orang yang benar-benar bisa mengobati perasaan (hati) gue saat ini.tapi ketika gue sadar, bukan seseorang yang gue butuhkan, karena gak mungkin ada yang bisa mengobati perasaan gue sampai pulih kecuali yang membuat perasaan ini. ALLAH.
mungkin inilah panggilan Allah, gue harus lebih mendekati diri lagi denganNya.

Rabu, 20 Mei 2015

bolehkah aku menjadi bocah kecil lagi?

Kehidupan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ternyata kehidupan itu tidak semudah seperti anak kecil meminta permen, tidak semudah seperti aku menghapus air mata, tidak semudah seperti menelan minuman. Kehidupan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ternyata kehidupan itu sulit. Begitu sulitnya sampai tidak bisa dikiaskan. Aku tidak tahu sampai kapan kehidupan seperti ini berakhir. Rintangan yang begitu banyak, berat dan menghilangkan gairah hidupku sampai aku lupa bahwa itulah rencana dari Yang Maha Segalanya. Malam ini, setelah sujudku padaMu, setelah do’a yang ku panjatkan padaMu, setelah banyaknya air mata yang tumpah di pipiku, setelah melihat jam dinding yang begitu kencang berdetak, aku baru menyadari berapa banyaknya waktu yang ku buang dalam kelemahan ini. Kehidupan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Entah kapan akan berakhir. 

 Bandung, sabtu 18 April 2015 21.33 WIB. 

Dalam kamarku dengan balutan mukena putih.

Kamis, 06 November 2014

ketika kematian itu datang



Sesak. Itulah yang gue rasakan malam itu. Seperti biasa karena gue keseringan tidur siang yang berlebihan jadi waktu malamnya gue sering tidur larut. Malam itu gue bermimpi. Sangat megerikan. Entah dari mana mulanya, tiba-tiba dada gue sesak dan tenggorokan gue sakit seperti ada biji salak yang nyangkut. Gue gak bisa bernafas. Tiba-tiba gue tersadar dan berfikr sambil berkata dalam hati “apakah ini yang dinamakan ajal? Apakah saat ini malaikat pencabut nyawa sedang menjalankan tugasnya?”. Gue gak tahu pasti. Gue takut. Rasa sakit dan sesak itu sangat gue rasakan dalam keadaan tidur. Saat pertanyaan-pertanyaan itu muncul, gue pengen cepet bangun. Gue belum siap mati dalam keadaan seperti ini, dalam keadaan yang sangat kekurangan amal baik. Gue pengen cepet-cepet bangun tapi gak bisa. Dengan sekuat tenaga akhirnya gue bisa bangun dan mengalahkan malaikat itu. Walaupun dalam nyatanya gue gak bisa mengalahkan malaikat pencabut nyawa itu. Dan gue tahu rasa sakit yang gue alami itu gak ada apa-apanya.
                Setelah bangun dari mimpi buruk itu (entah itu mimpi atau nyata) gue lemes banget. Badan panas. Mual. Menggigil. Ituah yang gue rasakan. Hari-hari yang gue jalankan pun tak bersemangat. Gue inget mimpi itu. “apakah itu pertanda bahwa gue gak bakal lama lagi di bumi ini?”. Entah mengapa gue pengen tidur terus siangnya. Tapi gue takut. Gue takut bahwa malaikat itu akan datang lagi dan gue gak bakal bisa bangun lagi. Gue belum siap jika tamu tak diundang itu akan datang.
                Sampai saat gue nulis jurnal ini pun gue lemes. Tapi sedikit demi sedikit gue tersadar. Bahwa di dunia ini gak ada yang abadi. Banyak kesalahan yang harus gue ubah. Banyak hal-hal baik yang belum gue perbuat di dunia ini. Banyak orang-orang di sekeliling gue yang belum gue banggakan. Banyak hati orang-orang yang gue sakiti belum gue mohon maaf. Dan masih banyak hal yang belum gue lakuin di sini.
                Tapi itulah skenario Tuhan yang manusia tidak ketahui. Skenario yang gak bisa ditebak ending (baca: akhir) nya kayak FTV. Bahwasannya kita sebagai manusia hidup hanya untukNya. Banyak hikmah yang bisa gue ambil dari kejadian itu. Hidup itu seperti perjalanan. Manusia itu sebagai perantau, dan rest area (baca: tempat peristirahatan) itu adalah bumi. Tujuan kita adalah kematian yang akan mengantar kita ke akhirat. Surga atau Neraka. Bekal kita adalah amalan kita. Jika kita mempunyai bekal yang cukup untuk mencapai tujuan maka kita akan mencapai tujuan kita (surga).
                Surga adalah tempat yang sangat diidam-idamkan oleh semua manusia di muka bumi ini. Oleh karena itu, lakukan lah perubahan sebelum tamu itu datang.